Kamis, 21 November 2013

KORELASI NILAI KKM , SKL-PAK dan SKL PAN

Seperti kita ketahui penilaian merupakan standar yang ditentukan untuk mengetahui tingkat kompetensi yang ingin dicapai.
Hubungan nilai KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) atau SKTSP ( Standart Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran, SKL( Standart Kriteria Lulusan )PAK dan SKL( Standart Kriteria Lulusan )PAN, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Dari ketiga hubungan tersebut  dihasilkan 3 ( tiga ) kondisi, yaitu :
 Kondisi A = Lulusan ditentukan dari nilai KKM draf KTSP. Apabila siswa berhasil mendapatkan nilai 8, maka berarti keaktifan guru mengajar tuntas dan keaktifan siswa belajar tuntas ( lulus ), apabila siswa mendapat nilai antara 6 – 8, maka dikatakan keaktifan guru tidak tuntas, tetapi keaktifan murid tuntas ( lulus ), sedangkan bila iswa mendapatkan nilai antara 0 – 6, maka dikatakan keaktifan guru dan siswa sama-sama tidak tuntas ( lulus ). Inilah yang terjadi pada SSN ( Sekolah Standar Nasional ) dan SBI ( Sekolah Bertaraf Internasional ). Guru dituntut untuk menyelesaikan setiap Standar Kompetensi sesuai nilai KKM didalam draf KTSP.  




Kondisi B = Lulusan ditentukan PAK dan PAN. Kelulusan baik berdasar persentasi, ataupun berdasar nilai rata-rata dan standar deviasi, dengan konversi nilai skala 10, dimana batas kelulusan adalah 6. Apabila siswa mendapatkan nilai hasil ujian 6, maka keaktifan siswa dan keaktifan guru dalam belajar mengajar tuntas lulus ), sedangkan bila siswa mendapa nilai ujian dibawahnya, maka sebaliknya guru dan siswa tidak tuntas ( lulus ). Ini terjadi pada instansi sekolah yang baru menuju ke SSN ( Sekolah Standar Nasional ) atau SBI ( Sekolah Bertaraf Internasional ) atau sekolah unggulan biasa. Dengan memperbaiki nilai SKL, sarana dan prasarana pembelajaran, maka instansi tersebut akan tercapai cita-citanya menjadi sekolah SSN atau SBI.  

Kondisi C = Adalah kondisi yang paling parah, karena pada kondisi ini instansi sekolah dikatakan perlu perbaikan, baik system pembelajarannya ataupun saran dan sarana pendukungnya. Dengan demikian kondisi yang parah ini akan terangkat menjadi sekolah biasa atau unggulan dan siap menuju kesekolah SSN atau SBI.

Kamis, 14 November 2013

LATAR BELAKANG
Tulisan disini akan berjalan
Perkembangan pendidikan nasional mulai akhir abad  XX dan di awal abad XXI ini mengalami perubahan orientasi yang cukup mendasar. Perubahan itu, diantaranya dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat menengah Indonesia yang sudah memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak mereka. Jika sebelumnya mereka berpandangan bahwa “yang terpenting anak-anak kita bersekolah”, maka pada beberapa dasa warsa terakhir, mereka menyatakan : “anak-anak kita harus mendapatkan sekolah bermutu.”
Berawal dari kenyataan yang demikian, terlebih adanya faktor penting lain yakni; lulusan SD AL-MADINA yang memerlukan sekolah khusus, agar lulusannya tetap memiliki unggul ilmu dan budi. Ditambah Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pendidik dan tenaga kependidikan yang melimpah, karena Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, meluluskan 700-900 sarjana setiap tahunnya, dengan berbagai program studi yang menjadi kompetensinya. Maka kami menyadari pentingya Pendidikan Islam Unggulan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, untuk membantu generasi bangsa usia SMP yang ingin mengembangkan potensi, bakat, minat mereka dalam menimba SAINS (Ilmu dan Teknologi) yang berlandaskan Budi Qur’ani  ditengah krisis moralitas dan intelektual pelajar pada remaja kita.
Selanjutnya Yayasan AL-MADINA yang telah memper-oleh kepercayaan masyarakat dari keberadaan SD Al-Madina, yang tahun demi tahun kuantitas dan kualitas siswanya terus meningkat. Maka, menjawab berbagai saran wali murid sebagai pengguna, didukung stake holders pendidikan yang ada di kabupaten Wonosobo, bahkan akademisi UNSIQ dan tokoh masyarakat, serta ulama’ dan pengusaha, perlu mendirikan SMP AL-MADINA untuk melahirkan dan mengorbitkan generasi cinta amal, berwawasan global, berkarakter Al-Qur’an. Dan melalui sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama SMP AL-MADINA ini juga, kami bermaksud memberikan sumbangsih nyata, agar ke depan bangsa Indonesia yang masyoritas Islam memiliki kemampuan daya saing tinggi terhadap bangsa-bangsa lain di dunia, dengan terciptanya generasi yang excellent on science and character, talk less do more